BAKTI Kominfo Incar Pendapatan Rp 3,1 Triliun di 2019

Jakarta – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) tercatat sebagai Badan Layanan Umum (BLU) dengan pendapatan terbesar kedua pada tahun 2018. Tahun ini mereka menargetkan pendapatan lebih lagi.

Dalam Nota Keuangan Tahun Anggaran 2019 yang dirilis oleh Kementerian Keuangan, selama tahun 2018, BAKTI membukukan pendapatan sebesar Rp2.989 Miliar atau Rp 2,9 triliun.

“Sektor telekomunikasi adalah salah satu sektor penyumbang PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) terbesar buat Negara,” ujar Direktur Utama BAKTI Anang Latif dalam pernyatannya.


Bakti menempati posisi runner up pendapatan BLU terbesar dari sekitar 224 BLU yang ada di Indonesia. Sementara di tahun ini, Bakti menargetkan pendapatan mencapai Rp3.168,7 Miliar atau meningkat 6,0% dibandingkan dengan outlook tahun sebelumnya.

“Sebagai BLU peringkat dua dari jumlah dana yang dikelola setiap tahunnya, Bakti selalu mengutamakan bagaimana layanan telekomunikasi dan internet bisa secepatnya dinikmati oleh masyarakat yang belum pernah terima sinyal sebelumnya dengan kualitas yang memadai,” tutur Anang Latif.

Anang menjelaskan tugas utama BAKTI untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia. BLU di bawah Kementerian Kominfo itu berupaya untuk menghadirkan layanan telekomunikasi di seluruh pelosok Indonesia.

Direktur Utama BAKTI Anang LatifDirektur Utama BAKTI Anang Latif Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

Dalam membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah pelosok, Bakti menggunakan dana Universal Service Obligation (USO) yang dipungut 1,25% pendapatan kotor operator telekomunikasi.

“Mengatasi bagaimana saudara-saudara kita yang ada di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) dan perbatasan merasakan menjadi bagian dari NKRI dan merasakan juga buah pembangunan pemerintah berupa infrastruktur telekomunikasi, yaitu sinyal seluler dan internet,” tuturnya.

Meski demikian, Anang mengungkapkan tantangan yang dihadapi oleh Bakti sangat kompleks, mulai dari lokasi yang sangat terpencil hingga sulit dijangkau karena akses jalan terkadang belum tersedia.

“Namun demikian hal tersebut tidak menyurutkan semangat Bakti untuk menghadirkan sinyal untuk masyarakat,” tandasnya.

Di 2019, BAKTI Kominfo Incar Pendapatan Rp 3,1 TBTS yang dipasang BAKTI di daerah 3T. Foto: Rachmatunnisa/detikINET

Menurut Anang, Bakti akan terus berupaya menghadirkan layanan telekomunikasi di seluruh pelosok Indonesia.

“Bakti akan menghadirkan teknologi terkini untuk layanan internet cepat dengan meyiapkan jaringan Palapa Ring dan Satelit multifungsi demi pemerataan layanan,” kata Anang.

Di sisi yang lain, Bakti juga telah melakukan terobosan pembiayaan dan mulai melakukan penatapan tarif untuk penggunaan Palapa Ring Barat.

Lahir pada tahun 2006, semula Bakti bernama Balai Telekomunikasi dan Informatika Pedesaan (BTIP). Sejak Agustus 2017, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mencanangkan nama baru bagi BP3TI menjadi Bakti.

Tugas utama Bakti melakukan pengelolaan program Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi dan Informatika. Bakti digunakan sebagai pengganti dari BP3TI. Bakti berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri dan BLU satu ini dipimpin oleh Direktur Utama.

Dengan model pengelolaan BLU, memungkinkan Bakti memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa mengutamakan keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, yang telah disempurnakan dengan PP Nomor 74 Tahun 2012 tentang Perubahan atas PP Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU; ada fleksibiiltas pengelolaan keuangan.

BLU dapat menggunakan pendapatannya secara langsung tanpa perlu menyetorkan terlebih dahulu ke kas negara, dapat menggunakan surplus pendapatannya dalam tahun anggaran sebelumnya, serta melakukan pengelolaan sumberdaya manusia secara lebih luas, dengan tetap berlandaskan kepada prinsip dan praktek bisnis yang sehat. (agt/afr)