BAKTI: Sewa Dulu, Baru Kerjakan Satelit Multifungsi

Jakarta – Dalam waktu dekat, pengadaan satelit multifungsi milik pemerintah akan segera dijalankan. Nantinya, satelit tersebut akan dimanfaatkan untuk penyebaran akses internet di daerah pelosok.

Satelit jenis Hight Throughput Satellite (HTS) itu akan jadi pendukung proyek Palapa Ring dan Base Transceiver Station (BTS) Universal Service Obligation (USO) dalam pemerataan layanan internet di seluruh Indonesia.

Sebelum mengembangkan satelit sendiri, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan menyewa satelit dari pemain yang sudah ada. Penyewaan ditujukan memperlancar layanan akses internet di 150 ribu titik, misalnya kebutuhan di sekolah, puskesmas, pemerintahan daerah, hingga untuk pertahanan di koramil dan polres.

“Membangun satelit baru milik pemerintah itu baru terealisasi kira-kira peluncurannya akhir 2022 dan bisa dirasakan 2023. Sebelum itu, kita sewa satelit dulu,” kata Direktur Utama BAKTI Anang Latief saat dihubungi detikINET.

“Kita sewa dari lima operator satelit, yaitu PSN, Iforte, Telkom, Lintasarta, dan Teleglobal. Kita sewa kapasitasnya, untuk seluruhnya sampai 21 Gbps. Total sewanya total untuk lima operator itu, Rp 120 miliar per bulannya,” tambahnya.

Proses sewa satelit direncanakan dilakukan pada akhir Maret ini, di mana pada bulan Februari dilakukan uji coba sebelum di bulan April mulai dirasakan layanan akses internetnya.

BAKTI, seperti dikatakan Anang, berambisi memberikan layanan akses internet 4G ke pelosok Indonesia termasuk perbatasan dengan negara tetangga.

Tender Satelit Multifungsi

Saat ini perusahaan yang mengikuti tender satelit multifungsi sudah mengerucut dari tujuh menjadi dua perusahaan saja. Anang menyebutkan dua perusahaan yang dimaksud adalah PSN dan konsorsium Iforte.

“Sekarang sudah memasuki tahap teknis sebelum ke proposal harga yang ditawarkan dari dua peserta tersebut. Tentunya, kita akan lihat harga yang paling murah dari dua peserta itu dengan memperhitungkan skor bobot teknis 60% dan harga 40%,” kata Anang.

Anang mengharapkan penentuan pemenang tender satelit multifungsi akan dapat diketahui Maret ini. Setelah itu, pemenangnya diberi waktu sebulan sebelum tanda tangan kontrak bulan Juni. Kemudian pemenang akan diberi waktu enam bulan untuk financial close.

Proses konstruksi pembangunan satelit multifungsi ditargetkan dapat dikerjakan selama tiga tahun, terhitung dari tahun 2020-2023. Dari pembuatan sampai peluncuran satelit multifungsi itu, BAKTI mengalokasi dana total sebesar Rp 8 triliun.

(agt/krs)