Foxconn Buka Peluang Pindahkan Produksi iPhone Keluar China

JakartaApple sepertinya bisa memiliki rencana cadangan jika perang dagang AS-China semakin memburuk. Foxconn, salah satu mitra manufaktur Apple, membuka peluang memindahkan produksi iPhone dan perangkat Apple lainnya, yang ditujukan untuk pasar AS, keluar dari China.

Pernyataan ini dibuat oleh bos divisi semikonduktor Foxconn Young Liu. Ia mengatakan pihaknya mendukung Apple sepenuhnya jika perang dagang AS-China semakin memburuk dan sulit diperkirakan.

“25% dari kapasitas produksi kami ada di luar China dan kita dapat membantu Apple merespon kebutuhan mereka di pasar AS. Kami memiliki kapasitas cukup untuk memenuhi permintaan Apple,” kata Liu seperti dikutip detikINET dari Bloomberg, Rabu (12/6/2019).

Liu mengatakan saat ini Apple belum memberi instruksi kepada Foxconn untuk memindahkan produksi keluar China, tapi mereka siap pindah berdasarkan permintaan konsumen. Foxconn akan bergerak cepat dan bergantung pada manufaktur lokal.

Foxconn sendiri saat ini masih memproduksi sebagian besar produk Apple di pabriknya yang berada di China daratan. Perusahaan asal Taiwan ini memiliki pabrik di Chennai, India tapi pabrik tersebut saat ini hanya menjalankan uji coba kualitas untuk iPhone XR.

Mereka juga sedang membangun pabrik yang akan memperkerjakan 13.000 orang di Wisconsin, AS. Analis dari Strategic Analytics Neil Mawston mengatakan Foxconn membutuhkan satu atau dua pabrik besar di luar China yang khusus untuk memenuhi permintaan produk Apple di pasar AS.

Seperti diketahui semua produk Apple yang masuk ke AS dari China harus terkena tarif sebesar 25% karena imbas dari perang dagang. Tarif ini akan mulai berlaku pada akhir bulan Juni dan menyasar produk seperti smartphone, laptop, tablet dan aksesoris gadget.

Jika Apple tidak memindahkan produksinya ke luar China, maka mereka terpaksa menaikkan harga produk antara 9-16%. Tapi kenaikan harga ini bisa menurunkan permintaan antara 10-40%. Jika Apple tidak menaikkan harga dan menyerap semua biaya tambahan akibat tarif, pendapatan per saham mereka akan turun antara 6-7%.

(vim/krs)