Kembangkan Talenta Digital, Kominfo Siapkan 20.000 Beasiswa

Jakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara memproyeksikan Indonesia butuh sekitar 9 juta tenaga kerja bidang digital hingga tahun 2030. Guna memenuhi kebutuhan tersebut Kementerian Kominfo kini menyiapkan 20.000 beasiswa Digital Talent Scolarship.

“Studi World Bank tahun hingga 2030 mencatat kita butuh tambahan 9 juta digital skill. Rata rata harus ada tambahan 600.000 per tahun. digital talent masuk ke Indonesia,” ujarnya Rudiantara dalam dalam diskusi Forum Merdeka Barat, Gedung Kemenkominfo, Jl Medan Merdeka Barat No. 9, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2019).

Untuk memenuhi kebutuhan talenta itu, katanya, tidak cukup jika hanya mengandalkan perguruan tinggi sebab perguruan tinggi lebih didominasi pelajaran teori ketimbang skill.

“Darimana kita dapat? Perguruan tinggi menghasilkan gelar sarjana. Mereka lebih banyak knowledge. Jadi pemerintah memikirkannya bagaimna sekarang kita larinya kepada skill,” ucap Rudiantara.

Demi memenuhi kebutuhan talenta tersebut, di tahun 2019 ini Kemenkominfo menargetkan bakal membuka kembali program Digital Talent Scolarship. Program ini akan mencetak sekitar 20.000 talenta digital di level teknisi. Rudiantara mengatakan beasiswa itu terbuka bagi siapa pun dengan berbagai macam latar belakang tapi ada batasan usia yakni tak boleh lebih dari 29 tahun.

“Kominfo tahun ini menyiapkan 20.000 beasiswa digital talent untuk level teknisi. Siapa pesertanya? Boleh lulusan SD, SMK, D3, S1 yang penting usia tidak lebih dari 29 tahun,” katanya.

“Pertengahan April pendaftarannya online,” lanjut Rudiantara.

Rudiantara menjelaskan tahun ini jumlah beasiswa diperluas. Hal itu lantaran berkaca dari tahun sebelumnya, bahwa jumlah peminat beasiswa itu sangat melebihi batas yang telah ditentukan.

“Jadi kita tahun ini 20.000, projeknya sudah kami lakukan pada tahun 2018, kami rekrut 1000 yang daftar 46.000, yang ikut tes online sampai akhir 21.000. Diterima 1.000. Dari 1.000 itu yang tersertifikasi cuma 980. Jadi Ada 2% yang tidak berhasil,” ungkapnya.

(eva/krs)