Tri Ogah Perang Tarif Internet

Jakarta – Industri seluler di Indonesia saat ini dianggap sedang tidak sehat. Tarif murah salah satunya disebut sebagai biang keladinya.

Ya, perang tarif bisa dibilang memang sedang dilakukan oleh beberapa provider untuk menggaet konsumen. Sayangnya, penawaran harga yang terkesan tidak wajar itu justru membuat industri menjadi tidak sehat.

Hal ini yang dihindari oleh Tri. Pihaknya mengaku tidak ingin tenggelam dalam kegiatan perang tarif tersebut.

“Fokus kami bukan pada memberikan harga yang semurah-murahnya. Kami harus kompetitif, tapi harga murah bukan satu-satunya cara untuk menggaet konsumen,” ucap Cliff Woo, Presiden Direktur dan CEO Tri Indonesia kepada detikINET ketika dijumpai dalam sebuah kesempatan.
Ia menambahkan, pihaknya fokus pada kualitas layanan. Maka dari itu, Cliff mengaku bahwa Tri melakukan banyak investasi dalam manajemen pengalaman konsumen.

“Kami mengembangkan internal back data system untuk melihat kebiasaan konsumen. Mulai dari melihat penggunaan data mereka hingga memeriksa siapa yang mendapat jaringan yang kurang baik sehingga kami bisa memperbaikinya. Kami banyak melakukan hal-hal tersebut,” tuturnya.

Satu yang tak kalah penting adalah ia menegaskan bahwa Tri telah beralih dari operator mobile tradisional menjadi penyedia layanan gaya hidup digital. Hal tersebut tampak dari pengembangan terhadap aplikasi mereka, yakni bima+.

Cliff mengklaim bahwa aplikasi tersebut sudah diunduh sebanyak 16 juta kali. Pengguna aktif hariannya pun juga tidak sedikit, baik itu untuk membeli layanan dari Tri maupun partner

“Jadi kami sudah beralih dari operator yang menjual SIM card dan data seluler menjadi penyedia berbagai macam layanan (gaya hidup digital),” pungkasnya. (asj/asj)